·
Aku iri dengan AWAN, ia hanya berjalan lurus menelurusi
takdirnya diiringi dengan yang membawanya pergi. Yaitu angin. Dan yang
membuatku iri adalah, ia dengan entengnya menumpahkan beban hidupnya jika itu
membuatnya sulit untuk menerusuri takdirnya. Ia akan menumpahkan bebannya itu
ke bumi. Yaitu air hujan. Aku mau jadi awan, yang bisa dengan mudahnya
menumpahkan beban hidup yang menyulitkanku. Tak melihat dan mengalami beragam
macam batu kerikil atau bermacam jenis angin yang membawanya. Tak memikirkan
berdampak baik atau buruk takdir jika sang angin membawanya. Bahkan acuh tak
acuh dengan awan awan yang ada di sekelilingnya dan tetap terus menelusuri
takdir dengan mulusnya. Jikalau segumpal awan ini berpecah berai, pecahan ini
akan membentuk segumpal awan yang baru dan tak memilih jenis atau berapa umur
anggota gumpalan baru tersebut. Hanya petirlah yang dapat membuat awan sedih
dan bingung, mau kemanakah ia pergi? Sebelum petir datang menyambar, awan
berubah lain menjadi bentuk gumpalan hitam yang menyeramakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar