Rabu, 05 Juni 2013

cloud



·       Aku iri dengan AWAN, ia hanya berjalan lurus menelurusi takdirnya diiringi dengan yang membawanya pergi. Yaitu angin. Dan yang membuatku iri adalah, ia dengan entengnya menumpahkan beban hidupnya jika itu membuatnya sulit untuk menerusuri takdirnya. Ia akan menumpahkan bebannya itu ke bumi. Yaitu air hujan. Aku mau jadi awan, yang bisa dengan mudahnya menumpahkan beban hidup yang menyulitkanku. Tak melihat dan mengalami beragam macam batu kerikil atau bermacam jenis angin yang membawanya. Tak memikirkan berdampak baik atau buruk takdir jika sang angin membawanya. Bahkan acuh tak acuh dengan awan awan yang ada di sekelilingnya dan tetap terus menelusuri takdir dengan mulusnya. Jikalau segumpal awan ini berpecah berai, pecahan ini akan membentuk segumpal awan yang baru dan tak memilih jenis atau berapa umur anggota gumpalan baru tersebut. Hanya petirlah yang dapat membuat awan sedih dan bingung, mau kemanakah ia pergi? Sebelum petir datang menyambar, awan berubah lain menjadi bentuk gumpalan hitam yang menyeramakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar