Sabtu, 26 Oktober 2013

My Sunshine


Suasana dingin selalu menyerbu pembuluhku. Aku menantikan seberkas sinar datang untuk menolongku. Lalu sinar secerah matahari itu datang. Datang untuk menghangatkanku. Sekarang, sinar yang sangat kunantikan itu selalu bersama ku~

Kau, selalu bersama ku. Begitu juga denganku. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk lari pergi menjauh meninggalkanmu. Hari demi hari kita ukir bersama di bangku ini. Canda, tawa, suka, duka, kita lewati bersama. Kebersamaan kita membuat semua orang kagum dan mendambakan hubungan yang indah ini.

Keretakkan dihubungan ini sudah tak asing lagi untuk kita. Terkadang, akupun merindukan hal itu. Dan kau selalu membuatku kembali percaya atas cintamu padaku dan membuatku kembali lagi kedalam dekapanmu. Ini sungguh indah. Sangaat indah.. Hingga akhirnya, kita bertemu untuk melepas rinduku padamu di bangku ini. Kau berbeda. Jauh, sangat berbeda. Kau tak lagi menyapaku dengan ucapan lembutmu dahulu dan tak lagi memberikan kehangatanmu dahulu. Kita berdua duduk didalam diam. Kau sibuk begulat dengan pikiranmu, begitupun denganku. Ada apa ini? Tak ada diantara kita yang mencoba untuk mencairkan suasana yang mulai beku ini.

Kau berdiri dengan tegapmu, menguncang tubuhku dan berkata 'katakan ini hanya mimpi!!' dengan nada terisak. Aku memelukmu, dan kaupun menangis. Kau bertahan dalam tangis dipelukanku dan terus berbisik 'Jangan pergi, kumohon... Jangann.. Kumohon..'. Aku takkan pergi, tapi kau terus melarangku untuk pergi. Kau mempererat pelukanmu seakan-akan aku akan pergi jauh. Suasana ini berubah hening lagi. Aku tau aku bukanlah orang tau segalanya tentang hidupmu. Tapi aku tau bagaimana dirimu.

Hal yang kunantikan datang juga, akhirnya kau mengeluarkan suaramu dari bibir itu. Tapi apa? Apa yang ku dengar? Kau ingin meninggalkanku? Tak taukah kau jika hati ini baru saja tersayat-sayat? Kemudian kau berlalu begitu saja. Meninggalkan hati yang sudah tersayat ini dengan membawa pergi obatnya juga. Singkat, itu yang aku tau antara kau dan aku.

Hari yang kulewati tanpamu tak seperti saat kemarin. Kini kau adalah sinar matahari yang teriknya selalu aku hindari. Yang jika aku biarkan akan membuat kulitku terbakar. Meskipun kau terus memperlakukanku seperti  tak pernah terjadi apa-apa diantara kita, tetap saja sikapmu  membuat hatiku semakin besar sayatannya.

Kita kembali, di bangku ini. Aku merasakan kulitku yang telah hangus karna tak berhasil menghindar dari terikmu, matahariku. Kita disini kembali dengan keheningan yang tak kunjung pecah. Baru saja aku berencana untuk pergi, kau menahanku dan berkata 'ini sangat menyiksa'. Tak tahu kah kau? Kau kembali mengoreskan pisau itu lagi di tempat yang sama, dihati ini. Dan aku berkata 'aku mencintaimu, karna satu alasan yang pasti, yaitu karna kita dan untuk kita. Jika kau sudah bisa menghilangkan alasanku untuk mencintaimu, sakit ini tak ada apa apanya dari sakit yang kau rasa' dan aku memilih untuk pergi berlari menghapus airmataku.

Kini, aku hanya seorang gadis yang selalu diselimuti oleh awan gelap nan dingin. Meskipun matahari berusaha untuk menghangatkanku, ternyata awan gelap ini tak mengizinkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar