Suasana dingin selalu
menyerbu pembuluhku. Aku menantikan seberkas sinar datang untuk menolongku.
Lalu sinar secerah matahari itu datang. Datang untuk menghangatkanku. Sekarang,
sinar yang sangat kunantikan itu selalu bersama ku~
Kau, selalu bersama
ku. Begitu juga denganku. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk lari pergi
menjauh meninggalkanmu. Hari demi hari kita ukir bersama di bangku ini. Canda,
tawa, suka, duka, kita lewati bersama. Kebersamaan kita membuat semua orang
kagum dan mendambakan hubungan yang indah ini.
Keretakkan dihubungan
ini sudah tak asing lagi untuk kita. Terkadang, akupun merindukan hal itu. Dan
kau selalu membuatku kembali percaya atas cintamu padaku dan membuatku kembali
lagi kedalam dekapanmu. Ini sungguh indah. Sangaat indah.. Hingga akhirnya,
kita bertemu untuk melepas rinduku padamu di bangku ini. Kau berbeda. Jauh,
sangat berbeda. Kau tak lagi menyapaku dengan ucapan lembutmu dahulu dan tak
lagi memberikan kehangatanmu dahulu. Kita berdua duduk didalam diam. Kau sibuk
begulat dengan pikiranmu, begitupun denganku. Ada apa ini? Tak ada diantara
kita yang mencoba untuk mencairkan suasana yang mulai beku ini.
Kau berdiri dengan
tegapmu, menguncang tubuhku dan berkata 'katakan ini hanya mimpi!!' dengan nada
terisak. Aku memelukmu, dan kaupun menangis. Kau bertahan dalam tangis
dipelukanku dan terus berbisik 'Jangan pergi, kumohon... Jangann.. Kumohon..'.
Aku takkan pergi, tapi kau terus melarangku untuk pergi. Kau mempererat
pelukanmu seakan-akan aku akan pergi jauh. Suasana ini berubah hening lagi. Aku
tau aku bukanlah orang tau segalanya tentang hidupmu. Tapi aku tau bagaimana
dirimu.
Hal yang kunantikan
datang juga, akhirnya kau mengeluarkan suaramu dari bibir itu. Tapi apa? Apa
yang ku dengar? Kau ingin meninggalkanku? Tak taukah kau jika hati ini baru
saja tersayat-sayat? Kemudian kau berlalu begitu saja. Meninggalkan hati yang
sudah tersayat ini dengan membawa pergi obatnya juga. Singkat, itu yang aku tau
antara kau dan aku.
Hari yang kulewati
tanpamu tak seperti saat kemarin. Kini kau adalah sinar matahari yang teriknya
selalu aku hindari. Yang jika aku biarkan akan membuat kulitku terbakar.
Meskipun kau terus memperlakukanku seperti
tak pernah terjadi apa-apa diantara kita, tetap saja sikapmu membuat hatiku semakin besar sayatannya.
Kita kembali, di
bangku ini. Aku merasakan kulitku yang telah hangus karna tak berhasil
menghindar dari terikmu, matahariku. Kita disini kembali dengan keheningan yang
tak kunjung pecah. Baru saja aku berencana untuk pergi, kau menahanku dan
berkata 'ini sangat menyiksa'. Tak tahu kah kau? Kau kembali mengoreskan pisau
itu lagi di tempat yang sama, dihati ini. Dan aku berkata 'aku mencintaimu,
karna satu alasan yang pasti, yaitu karna kita dan untuk kita. Jika kau sudah
bisa menghilangkan alasanku untuk mencintaimu, sakit ini tak ada apa apanya
dari sakit yang kau rasa' dan aku memilih untuk pergi berlari menghapus
airmataku.
Kini, aku hanya
seorang gadis yang selalu diselimuti oleh awan gelap nan dingin. Meskipun
matahari berusaha untuk menghangatkanku, ternyata awan gelap ini tak
mengizinkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar