Tik tok tik tok tik tok...
Suara tetes tetes air itu membuat
suasana disini menjadi lebih menegangkan. Dengan adanya kau di hadapanku dengan
wajah teduh tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjelaskan tujuanmu.
'Ayo, mulailah. Tubuh ini sudah tak sanggup melihatmu diam seperti ini'
batinku.
'Aku mencintaimu. Kemarin, hari ini,
dan juga besok. Besoknya, dan besoknya lagi. Aku tetap mencintaimu meski tembok
besar memisahkan kita. Aku ingin dirimu, maukah kau menjadi pendampingku,
menerima semua kekuranganku dan menutupinya dengan kesempurnaanmu?' ucapmu
dengan menyodorkan setangkai mawar putih dihadapanku. Teesss.. Air mataku
terjun bebas di pipiku. Dengan secepat kilat juga kau menghapus airmataku.
'Kumohon, jangan ada tangisan. Aku
tak ingin kau mengeluarkan air itu dari matamu'
Aku diam membungkam dan tak berniat
untuk mengeluarkan jawaban. Ku lihat mawar itu. Putih, suci, dan juga ada
durinya.
'Jika cintamu bagaikan mawar ini, kau
akan membuat ku terluka dengan durimu itu. Aku juga mencintaimu meski duri
itu melukaiku' ucapku dengan senyum yang
mengembang di wajah ini dan mengambil mawar itu darimu.
'Aku akan membuat duri ini tumpul
agar tak melukaimu'
Ya, hubungan kita seperti mawar
putih. Yang suci tanpa adanya dusta, mempunyai banyak kelopak halus yang
membuat kita saling melengkapi, dan juga duri yang membuat kita terluka. Tapi
luka yang tercipta dari duri itu tak terlalu terasa pedih karna kau telah
membuatnya tumpul. Meskipun begitu, duri memiliki satu sisi yang rucing yang
kapan saja bisa melukai kita. Jika duri itu tumpul, bukan duri namanya.
Dan, jika hubungan kita seperti mawar
putih, pasti akan mengalami yang namanya layu. Tetapi kata 'layu' itu tak
pernah menyentuh atmosfer cinta kita. Cinta kita tak pernah pudar oleh waktu
seperti mawar yang layu termakan oleh waktu. Sekarang, kita adalah bunga mawar
putih yang telah ditancapkan ke dalam tanah dan terus tumbuh menjadi semakin
besar dan indah pastinya. Dan akan tetap kokoh walau badai menerjang.
Hal yang paling kutakutkan selama ini sudah ada di depanku. Terdapat seseorang yang
ingin mematahkan pohon cinta kita. Dia telah memetik setangkai bunga mawar dan
membawanya. Dia membawamu pergi entah kemana. Kini pohon mawarku telah rusak
begitu saja. Kau merasa nyaman dengannya. Aku menunggumu kembali. Lamaaa....
Sangat lama. Dan pada akhirnya, kau layu dan ia membuangmu begitu saja layaknya
sampah. Aku memperhatikanmu, kau melihatku penuh arti. Matamu seakan-akan
memintanku untuk menerimamu lagi.
'Aku mencintaimu. Aku ingin kembali denganmu.
Tapi aku terlalu takut untuk menerimamu lagi' batinku. Kuberikan senyuman indah
yang pernah kuberikan saat kau memulai hubungan indah kita. Dan hal itu aku
ulang kembali untuk memulai hubungan indah kita lagi.
Kali ini, aku takkan mengizinkan kau
membuat duri yang ada pada dirimu itu menjadi tumpul. Aku lebih memilih terluka
karna durimu itu daripada harus kehilanganmu lagi karna mereka mengambilmu
tanpa terluka.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar