Di
hari pertama kehadiranmu 17 februari, kau belum ada apa apanya untukku. Bahkan
tak pernah aku berfikir untuk mengenalmu lebih jauh di saat itu. Di hari kedua
(18), kau menyapaku dengan 'sangat' akrabnya. Dan aku masih belum menerima
kehadiranmu yang belum ada apa-apanya. Aku tak keberatan karna kau memanggilku
dengan kata 'sayang' itu. Itu dasari karna aku menghargaimu sebagai orang baru
di hidupku.
Hari
selanjutnya (19), aku menyebutmu 'buzz' sebagai sapaan akrabku padamu. Seminggu
dua minggu, aku tertarik padamu. Masuk ke permainanmu, dan kita bermain
bersama. Hubungan ini semakin menjauh dari sebelumnya. Aku ingin lebih dari
sekarang. Aku ingin mengenalmu lebih dan lebih dalam lagi. Aku ingin kita
memiliki komitmen bersama dan mempertahankannya. Tapi mungkin tidak semudah itu
menurutmu.
Suatu
malam (3 maret), aku menuntut kejelasan dari hubungan kita. Aku berkata
'menurut buzz, hubungan ini dinamakan apa ya?'. Lalu kau berkata kau akan
memberi kepastian saat setelah kita berjumpa untuk pertama kalinya. Aku sabar
menunggu kapan hari itu datang. Harap cemas aku menanti. Cemas bagaimana jika
kita bertemu nanti. Apakau memutuskan untuk pergi, atau malah memutuskan untuk
menjalin semuanya.
Karna
ketidaksengajaan, pertemuan kita (21) terjadi begitu saja tanpa skenario yang seharusnya
kita susun. Ku akui aku terperangah ketika bagaimana sosok 'buzz' yang sudah
sebulan lebih menemaniku. Kita tak banyak bicara malam itu. Aku terlalu gugup
untuk berbicara, aku tak tau apa yang kau fikirkan saat kau melihatku, aku tak
tau apa yang kau rasakan saat itu. Apakah kau juga gugup? Atau kau takut untuk
menyapaku? Entahlah.
Setelah
malam itu, kita seperti biasa saat sebelum berjumpa. Masih dengan
ketidakpastian dan juga ucapan mesra yang saling kita lemparkan. Kau melanggar
janji itu. Kau tak memberikannya. Mau menggantung harapku.
Awalnya,
aku berfikir bahwa mungkin kau butuh waktu yang tepat untuk kau meresmikan
hubungan tanpa ikatan ini. Aku tetap sabar menunggu. Aku tak tau, mungkin
inilah cobaan untukku untuk lebih bersabar bertahan denganmu. Sehari setelah
perjumpaan itu, aku mendengar kau dekat dengan perempuan lain. Sebelum ini ,
aku pernah mendengar juga kau dekat dengan yg lain. Tapi aku menutup telinga ku
dan percaya padamu. Saat itu aku memintamu memilih (17 maret) antara aku dan dia.
Dan kau memilihku dan juga tanpa ikatan.
Dan sekarang, aku mendengar lagi kau dekat dengan perempuan selain aku
dan dia (24).
Aku
membuka sebelah telingaku, dan saat itu juga aku bertekad untuk menghapusmu.
Tapi apa? Kau kau datang lagi malam itu. Dan kau berusaha meyakinkanku bahwa
hanya aku perempuan yg ada di hatimu. Ya ampun, kita saja belum ada hubungan
apa apa, kau sudah 'selingkuh' dariku? Beribu alasan kau lontarkan dan aku
memutuskan untuk membuka hati yang hampir tertutup untukmu. Besoknya, aku
berkata aku mengaku kalah dalam permainanmu. Kita beradu argumen malam itu. Kau
terus menekan bahwa kau adalah benar. Kau hanya menyayangiku, bukan yang lain.
Dan aku kembali lagi padamu. Namun, kali ini berbeda dari sebelumnya.
Dahulu,
aku memutuskan kembali padamu karna aku percaya padamu. Kali ini, kepercayaanku
luntur begitu saja. Aku memutuskan untuk melanjutkan permainanmu. Aku tetap
bertahan meski harus membongi diri sendiri dan juga banyak orang. Aku berkata 'aku hanya mengukiti permainan tanpa ada
rasa lagi padanya' namun kenyataannya 'aku masih menaruh harap padanya'.
Ya, dua bulan berlalu sangat cepat. Bahkan kita sudah melupakan kejadian lalu.
Semua masih sama. Masih tanpa ketidakpastian dan gantung. Kita juga sudah
bertemu untuk yang kedua kalinya. Dan aku sudah bersikap seperti yang sama di
BBM. Aku bahagia dengan pertemuan itu? Jawabannya, Sangat! Karna aku
menyayangimu. Sesederhana itu.
Perlahan
kau dan aku mulai berubah. Seperti ada tembok yang sedang di bangun di antara
kita. Aku jarang mengubungimu. Tapi kau sesekali memulai percakapan kita dan
diakhiri dengan ucapan selamat tidur dariku tanpa balasan darimu. Selalu
seperti itu hingga malam itu (25 april). Selalu kau yang memulai, dan aku yang
ditinggal tidur olehmu. Sudah sedikt jumlah penyataan 'I love u' yang biasanya kau katakan saat percakapan kita mulai
garing. Hingga malam kemarin (26) aku menghubungimu. Kau berbeda. Jauuuhhh
sangat sangat berbeda. Kau memanggilku bagai orang asing. Dulu, kau tak pernah
menyebut namaku. Kau selalu memanggilku dengan 'sayangku' atau 'cintaku'
lah atau juga 'ayang'.
Aku
terpukul. Aku bertahan selama ini tanpa ada sesuatu yang harus dikenang di
antara kita. Malam itu menjadi malam terakhir aku menghubungimu. Menjadi malam
terakhir aku mengikuti permainanmu. Menjadi malam terakhir aku mengetik 'hai buzz' dikala ada waktuku untuk
sekedar menanyakan kabar.
Dulu
kita 0% dan beranjak perlahan memecahkan angka 0 itu. Dan sekarang, aku kembali
di angka 0% itu. Tanpa sekalipun menyenggol angka 100%. Aku menghapusmu, dan
kali ini benar-benar menghapusmu.
Mungkin
sudah waktunya aku sadar bahwa aku di permainkan, di beri harpan palsu, di
gantung tanpa kejelasan. Entahlah, aku tak tahu bagaimana kehidupanku setelah kau
pergi, seseorang yang telah menjadi
penompangku selama 2 bulan lebih yang sangat berarti.
Aku pernah menemukan tawaku sebelum kau
hadir, mengapa aku harus takut untuk tidak mendapatkannnya setelah kau pergi?
Mengapa aku harus bertemu tangisku saat kau pergi? Padahal aku tak menemukannya
sebelum kau hadir. Aku hanya harus kembali disaat semua belum ada apa apanya. Di
saat kau dan aku belum bertemu. Di saat kita belum saling mengenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar