Minggu, 27 April 2014

From 0% to 0% (buzz)


Di hari pertama kehadiranmu 17 februari, kau belum ada apa apanya untukku. Bahkan tak pernah aku berfikir untuk mengenalmu lebih jauh di saat itu. Di hari kedua (18), kau menyapaku dengan 'sangat' akrabnya. Dan aku masih belum menerima kehadiranmu yang belum ada apa-apanya. Aku tak keberatan karna kau memanggilku dengan kata 'sayang' itu. Itu dasari karna aku menghargaimu sebagai orang baru di hidupku.

Hari selanjutnya (19), aku menyebutmu 'buzz' sebagai sapaan akrabku padamu. Seminggu dua minggu, aku tertarik padamu. Masuk ke permainanmu, dan kita bermain bersama. Hubungan ini semakin menjauh dari sebelumnya. Aku ingin lebih dari sekarang. Aku ingin mengenalmu lebih dan lebih dalam lagi. Aku ingin kita memiliki komitmen bersama dan mempertahankannya. Tapi mungkin tidak semudah itu menurutmu.

Suatu malam (3 maret), aku menuntut kejelasan dari hubungan kita. Aku berkata 'menurut buzz, hubungan ini dinamakan apa ya?'. Lalu kau berkata kau akan memberi kepastian saat setelah kita berjumpa untuk pertama kalinya. Aku sabar menunggu kapan hari itu datang. Harap cemas aku menanti. Cemas bagaimana jika kita bertemu nanti. Apakau memutuskan untuk pergi, atau malah memutuskan untuk menjalin semuanya.

Karna ketidaksengajaan, pertemuan kita (21) terjadi begitu saja tanpa skenario yang seharusnya kita susun. Ku akui aku terperangah ketika bagaimana sosok 'buzz' yang sudah sebulan lebih menemaniku. Kita tak banyak bicara malam itu. Aku terlalu gugup untuk berbicara, aku tak tau apa yang kau fikirkan saat kau melihatku, aku tak tau apa yang kau rasakan saat itu. Apakah kau juga gugup? Atau kau takut untuk menyapaku? Entahlah.
Setelah malam itu, kita seperti biasa saat sebelum berjumpa. Masih dengan ketidakpastian dan juga ucapan mesra yang saling kita lemparkan. Kau melanggar janji itu. Kau tak memberikannya. Mau menggantung harapku.

Awalnya, aku berfikir bahwa mungkin kau butuh waktu yang tepat untuk kau meresmikan hubungan tanpa ikatan ini. Aku tetap sabar menunggu. Aku tak tau, mungkin inilah cobaan untukku untuk lebih bersabar bertahan denganmu. Sehari setelah perjumpaan itu, aku mendengar kau dekat dengan perempuan lain. Sebelum ini , aku pernah mendengar juga kau dekat dengan yg lain. Tapi aku menutup telinga ku dan percaya padamu. Saat itu aku memintamu memilih (17 maret) antara aku dan dia. Dan kau memilihku dan juga tanpa ikatan.  Dan sekarang, aku mendengar lagi kau dekat dengan perempuan selain aku dan dia (24).

Aku membuka sebelah telingaku, dan saat itu juga aku bertekad untuk menghapusmu. Tapi apa? Kau kau datang lagi malam itu. Dan kau berusaha meyakinkanku bahwa hanya aku perempuan yg ada di hatimu. Ya ampun, kita saja belum ada hubungan apa apa, kau sudah 'selingkuh' dariku? Beribu alasan kau lontarkan dan aku memutuskan untuk membuka hati yang hampir tertutup untukmu. Besoknya, aku berkata aku mengaku kalah dalam permainanmu. Kita beradu argumen malam itu. Kau terus menekan bahwa kau adalah benar. Kau hanya menyayangiku, bukan yang lain. Dan aku kembali lagi padamu. Namun, kali ini berbeda dari sebelumnya.

Dahulu, aku memutuskan kembali padamu karna aku percaya padamu. Kali ini, kepercayaanku luntur begitu saja. Aku memutuskan untuk melanjutkan permainanmu. Aku tetap bertahan meski harus membongi diri sendiri dan juga banyak orang. Aku berkata 'aku hanya mengukiti permainan tanpa ada rasa lagi padanya' namun kenyataannya 'aku masih menaruh harap padanya'. Ya, dua bulan berlalu sangat cepat. Bahkan kita sudah melupakan kejadian lalu. Semua masih sama. Masih tanpa ketidakpastian dan gantung. Kita juga sudah bertemu untuk yang kedua kalinya. Dan aku sudah bersikap seperti yang sama di BBM. Aku bahagia dengan pertemuan itu? Jawabannya, Sangat! Karna aku menyayangimu. Sesederhana itu.

Perlahan kau dan aku mulai berubah. Seperti ada tembok yang sedang di bangun di antara kita. Aku jarang mengubungimu. Tapi kau sesekali memulai percakapan kita dan diakhiri dengan ucapan selamat tidur dariku tanpa balasan darimu. Selalu seperti itu hingga malam itu (25 april). Selalu kau yang memulai, dan aku yang ditinggal tidur olehmu. Sudah sedikt jumlah penyataan 'I love u' yang biasanya kau katakan saat percakapan kita mulai garing. Hingga malam kemarin (26) aku menghubungimu. Kau berbeda. Jauuuhhh sangat sangat berbeda. Kau memanggilku bagai orang asing. Dulu, kau tak pernah menyebut namaku. Kau selalu memanggilku dengan 'sayangku' atau 'cintaku' lah atau juga 'ayang'.

Aku terpukul. Aku bertahan selama ini tanpa ada sesuatu yang harus dikenang di antara kita. Malam itu menjadi malam terakhir aku menghubungimu. Menjadi malam terakhir aku mengikuti permainanmu. Menjadi malam terakhir aku mengetik 'hai buzz' dikala ada waktuku untuk sekedar menanyakan kabar.
Dulu kita 0% dan beranjak perlahan memecahkan angka 0 itu. Dan sekarang, aku kembali di angka 0% itu. Tanpa sekalipun menyenggol angka 100%. Aku menghapusmu, dan kali ini benar-benar menghapusmu.
Mungkin sudah waktunya aku sadar bahwa aku di permainkan, di beri harpan palsu, di gantung tanpa kejelasan. Entahlah, aku tak tahu bagaimana kehidupanku setelah kau pergi, seseorang  yang telah menjadi penompangku selama 2 bulan lebih yang sangat berarti.
Aku pernah menemukan tawaku sebelum kau hadir, mengapa aku harus takut untuk tidak mendapatkannnya setelah kau pergi? Mengapa aku harus bertemu tangisku saat kau pergi? Padahal aku tak menemukannya sebelum kau hadir. Aku hanya harus kembali disaat semua belum ada apa apanya. Di saat kau dan aku belum bertemu. Di saat kita belum saling mengenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar