Seharusnya
dari awal aku sudah tau, aku tak perlu repot-repot untuk meyakinkan dirimu akan
hubungan kita. Aku tak perlu bersikeras meyakinkanmu jika kita dapat bersatu.
Tapi kau tak seharusnya juga menerimaku jika kau tak menyayangiku. Meskipun kau
mengatakan kau tertarik denganku, kau suka padaku, kau menyayangiku. Tapi itu
semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Harusnya aku berfikir 2 kali dan
mempertimbangkan, tak mungkin dengan waktu yang singkat kau dapat menyayangiku
dengan tulus.
Kita
mencobanya perlahan, selangkah demi selangkah kita coba. Kita bisa. Kita bisa
melakukannya. Kita bisa melewatinya. Bahkan ini semua diluar dugaanku. Aku yang
menyayangimu, tak pernah menyangka ternyata kau bisa semanis dan setulus itu.
Kita baik-baik saja dalam minggu ke minggu. Kita selalu bertemu jika ada
kesempatan, kita menghabiskan waktu hanya untuk sekedar melepas rindu, kita
bercerita banyak tentang bagaimana sekolahmu, teman-temanmu, keluargamu,
kehidupanmu sebelum kita bertemu. Aku tak akan melewatkan satu detikpun
kebersamaan kita. Dan tak akan ingin melewatinya.
Seringkali
dengan tingkah kekanak-kanakanku aku marah padamu karna kau yang terlalu sibuk
dengan kegiatanmu dan temanmu. Kemudian kau akan berkata padaku bahwa aku tetap
menjadi nomor satu bagimu. Sering juga, kau membalas singkat pesanku dan
kemudian aku berkata kau berbeda. Kau terus menerus bertanya apanya yang
berbeda? Tak kah kau sadari itu sayang? Aku sangat merasakan perbedaan itu.
Lalu aku berkata mungkin itu hanya persaanku saja. Dan memang benar, kau tak
merasakannya, hanya aku yang merasakannya.
Aku
tetap sama, aku tetap menyayangimu, sangat menyayangimu. Bahkan disaat kita
telah kehabisan pembicaraan, aku selalu membuka permbicaraan baru tentang apa
saja yang terjadi di sekolahku. Dan selalu bersabar saat kau hanya membalas
satu kalimat dari tiga kalimat ceritaku. Sayang, kau harus tau, aku tak akan
marah jika kau membalas singkat pesanku. Karna aku percaya, kau juga menyayangiku
seperti aku menyayangimu. Aku mencoba untuk terbiasa dengan sikapmu itu. Aku
berhasil, aku mulai terbiasa dengan itu semua. Kau membalas pesanku sekarang,
semenit kemudian aku membalasnya kembali. Lalu 5 atau 12 menit kemudian kau
kembali membalas pesanku. Aku terbiasa sayang dengan itu, sangat terbiasa. Aku
ingin memahamimu dengan cara bersabar dan tetap berpikiran positif tentangmu. Aku
ingat kau pernah bilang bahwa kau tak mengetahui jika handphone-mu itu berbunyi
karna pesanku saat aku bertanya mengapa kau sangat lama membalas pesanku. Aku
menerima dan memahami itu
Sayang,
aku bisa bertahan dan tetap mencintaimu walaupun aku hanya merasa berpacaran
sepihak. Sayang, aku masih bisa menahan emosiku saat kau hanya membaca pesanku
atau kau hanya membalas sebuah jalan buntu untuk pesan dariku. Sayang, aku baik-baik
saja jika kau tak mengucapkan selamat pagi untukku atau mengatakan “love you”
saat kau ingin tidur.Tapi sayangku, aku tak akan tahan jika sekali saja kau
membuatku cemburu karna perempuan lain. Aku sangat tidak bisa dengan itu. Itu
membuatku ragu atas cintamu. Aku mencoba untuk menahan sakit itu saat
melihat perempuan di foto itu merangkul
tanganmu. Dihati ini sangat perih sayang, tak kah kau tau itu? Sebelum ini, aku
pernah melakukan hal yang sama. Itu kulakukan hanya untuk membuatmu cemburu dan
hanya untuk mendengar kau akan berkata “yng, aku cemburu”. Tapi apa? Kau tak
melakukannya. Bahkan kau bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tak kah kau
tau sayang? Semua orang di sekelilingku tau aku seperti orang yang sangat bodoh
saat itu. Aku berbicara sendiri pada handphone ku “kok biasa aja sih? Cemburu
kek, apa kek”. Tapi aku tetap mencoba
bersabar saat itu. Aku berfikir mungkin saja kau tak cemburu karna kau memang
yakin bahwa aku menyayangimu dan tak akan berpaling dengan pria manapun.
Sayang,
aku benar-benar minta maaf karna kebodohanku aku cemburu buta pada perempuan
itu. Aku benar-benar minta maaf karna tak membalas pesan darimu bahkan mencoba
menghilang darimu malam itu. Aku benar-benar menyesal karna telah bersikap tak perduli
padamu malam itu. Aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal sayang. Tak
bisakah kau menarik kembali ucapanmu itu? Tak bisakah kita mencari jalan keluar
dari permasalahan ini? Tak bisakah kau memberikanku kesempatan untuk berjumpa
denganmu dan menjelaskan semuanya? Aku sangat menyayangimu melebihi apapun. Tak
bisakah kau percaya dengan itu? Haruskah kita berpisah karna alasanmu kita
sudah tidak cocok? Andai kau tau, aku buntu sayang, aku hancur. Aku bersikeras
untuk mempertahankan semuanya. Mempertahankan kenangan kita selama 4 minggu
ini. Mempertahankan segalanya yang
pantas untuk di pertahankan. Jadi inilah akhinya, aku mengaku kalah setelah
lelah untuk mempertahankan kita. Aku mengikuti keinginanmu untuk mengakhiri hubungan
ini. Aku tak akan bisa menang untuk mempertahankan hubungan ini jika kau
bersikeras untuk mengakhirinya.
Aku
bisa mengerti kenapa kau menginginkan ini. Ini salahku. Ini kebodohanku. Inilah
hukuman untukku. Aku harus kehilangan untuk kesekian kalinya. Aku harus
kehilangmu saat aku benar-benar sayang padamu. Aku harus menghapus kenangan
kita. Jejak cinta kita. Semua yang berbau kita, harus ku hapus. Yang harus kau tau sayang,
aku akan mulai belajar untuk melepaskanmu meski hatiku sangat menyayangimu. Aku
selalu membuka pintu hati ini jika kau ingin pulang. Aku tak pernah menyesal karna
mengenalmu kemarin dan menyayangimu hingga saat ini.
dho❤️
dho❤️
Tidak ada komentar:
Posting Komentar