Senin, 23 Juni 2014

4 minggu bersama


Seharusnya dari awal aku sudah tau, aku tak perlu repot-repot untuk meyakinkan dirimu akan hubungan kita. Aku tak perlu bersikeras meyakinkanmu jika kita dapat bersatu. Tapi kau tak seharusnya juga menerimaku jika kau tak menyayangiku. Meskipun kau mengatakan kau tertarik denganku, kau suka padaku, kau menyayangiku. Tapi itu semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Harusnya aku berfikir 2 kali dan mempertimbangkan, tak mungkin dengan waktu yang singkat kau dapat menyayangiku dengan tulus.
Kita mencobanya perlahan, selangkah demi selangkah kita coba. Kita bisa. Kita bisa melakukannya. Kita bisa melewatinya. Bahkan ini semua diluar dugaanku. Aku yang menyayangimu, tak pernah menyangka ternyata kau bisa semanis dan setulus itu. Kita baik-baik saja dalam minggu ke minggu. Kita selalu bertemu jika ada kesempatan, kita menghabiskan waktu hanya untuk sekedar melepas rindu, kita bercerita banyak tentang bagaimana sekolahmu, teman-temanmu, keluargamu, kehidupanmu sebelum kita bertemu. Aku tak akan melewatkan satu detikpun kebersamaan kita. Dan tak akan ingin melewatinya.
Seringkali dengan tingkah kekanak-kanakanku aku marah padamu karna kau yang terlalu sibuk dengan kegiatanmu dan temanmu. Kemudian kau akan berkata padaku bahwa aku tetap menjadi nomor satu bagimu. Sering juga, kau membalas singkat pesanku dan kemudian aku berkata kau berbeda. Kau terus menerus bertanya apanya yang berbeda? Tak kah kau sadari itu sayang? Aku sangat merasakan perbedaan itu. Lalu aku berkata mungkin itu hanya persaanku saja. Dan memang benar, kau tak merasakannya, hanya aku yang merasakannya.
Aku tetap sama, aku tetap menyayangimu, sangat menyayangimu. Bahkan disaat kita telah kehabisan pembicaraan, aku selalu membuka permbicaraan baru tentang apa saja yang terjadi di sekolahku. Dan selalu bersabar saat kau hanya membalas satu kalimat dari tiga kalimat ceritaku. Sayang, kau harus tau, aku tak akan marah jika kau membalas singkat pesanku. Karna aku percaya, kau juga menyayangiku seperti aku menyayangimu. Aku mencoba untuk terbiasa dengan sikapmu itu. Aku berhasil, aku mulai terbiasa dengan itu semua. Kau membalas pesanku sekarang, semenit kemudian aku membalasnya kembali. Lalu 5 atau 12 menit kemudian kau kembali membalas pesanku. Aku terbiasa sayang dengan itu, sangat terbiasa. Aku ingin memahamimu dengan cara bersabar dan tetap berpikiran positif tentangmu. Aku ingat kau pernah bilang bahwa kau tak mengetahui jika handphone-mu itu berbunyi karna pesanku saat aku bertanya mengapa kau sangat lama membalas pesanku. Aku menerima dan memahami itu
Sayang, aku bisa bertahan dan tetap mencintaimu walaupun aku hanya merasa berpacaran sepihak. Sayang, aku masih bisa menahan emosiku saat kau hanya membaca pesanku atau kau hanya membalas sebuah jalan buntu untuk pesan dariku. Sayang, aku baik-baik saja jika kau tak mengucapkan selamat pagi untukku atau mengatakan “love you” saat kau ingin tidur.Tapi sayangku, aku tak akan tahan jika sekali saja kau membuatku cemburu karna perempuan lain. Aku sangat tidak bisa dengan itu. Itu membuatku ragu atas cintamu. Aku mencoba untuk menahan sakit itu saat melihat  perempuan di foto itu merangkul tanganmu. Dihati ini sangat perih sayang, tak kah kau tau itu? Sebelum ini, aku pernah melakukan hal yang sama. Itu kulakukan hanya untuk membuatmu cemburu dan hanya untuk mendengar kau akan berkata “yng, aku cemburu”. Tapi apa? Kau tak melakukannya. Bahkan kau bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tak kah kau tau sayang? Semua orang di sekelilingku tau aku seperti orang yang sangat bodoh saat itu. Aku berbicara sendiri pada handphone ku “kok biasa aja sih? Cemburu kek, apa kek”.  Tapi aku tetap mencoba bersabar saat itu. Aku berfikir mungkin saja kau tak cemburu karna kau memang yakin bahwa aku menyayangimu dan tak akan berpaling dengan pria manapun.
Sayang, aku benar-benar minta maaf karna kebodohanku aku cemburu buta pada perempuan itu. Aku benar-benar minta maaf karna tak membalas pesan darimu bahkan mencoba menghilang darimu malam itu. Aku benar-benar menyesal karna telah bersikap tak perduli padamu malam itu. Aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal sayang. Tak bisakah kau menarik kembali ucapanmu itu? Tak bisakah kita mencari jalan keluar dari permasalahan ini? Tak bisakah kau memberikanku kesempatan untuk berjumpa denganmu dan menjelaskan semuanya? Aku sangat menyayangimu melebihi apapun. Tak bisakah kau percaya dengan itu? Haruskah kita berpisah karna alasanmu kita sudah tidak cocok? Andai kau tau, aku buntu sayang, aku hancur. Aku bersikeras untuk mempertahankan semuanya. Mempertahankan kenangan kita selama 4 minggu ini. Mempertahankan segalanya  yang pantas untuk di pertahankan. Jadi inilah akhinya, aku mengaku kalah setelah lelah untuk mempertahankan kita. Aku mengikuti keinginanmu untuk mengakhiri hubungan ini. Aku tak akan bisa menang untuk mempertahankan hubungan ini jika kau bersikeras untuk mengakhirinya.
Aku bisa mengerti kenapa kau menginginkan ini. Ini salahku. Ini kebodohanku. Inilah hukuman untukku. Aku harus kehilangan untuk kesekian kalinya. Aku harus kehilangmu saat aku benar-benar sayang padamu. Aku harus menghapus kenangan kita. Jejak cinta kita. Semua yang berbau kita, harus ku hapus. Yang harus kau tau sayang, aku akan mulai belajar untuk melepaskanmu meski hatiku sangat menyayangimu. Aku selalu membuka pintu hati ini jika kau ingin pulang. Aku tak pernah menyesal karna mengenalmu kemarin dan menyayangimu hingga saat ini.

dho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar