Sudah waktunya
Aku harus sadar jika aku tak
pernah bahagia bersamamu
Yang ku dapat bersamamu
hanyalah kesakitan
Kesakitan yang selama ini
tertutupi oleh kebahagian semu
Kesakitan yang selama ini
kucoba untuk tak merasakan kehadirannya
Kesakitan yang selama ini aku
tahan dengan berkata aku gapapa, aku bisa, aku baik-baik saja
Kesakitan yang selama ini aku
sembunyikan darimu, dari dunia
Dulu aku terlalu takut untuk
sadar bahwa kita tak sepantasnya ada
Kalian yang dulu adalah sangat
bahagia
Kalian adalah sesuatu yang
paling indah
Kalian adalah hal yang
seharusnya tak kusetuh, tak kucoba untuk kurusak
Kalian terlalu suci untuk ku
campuri
Aku mencoba bertahan diantara
kalian, mencoba untuk tetap tersenyum dibalik topeng saat kalian bersama. Tapi
apa? Hasilnya nihil. Tiap kamu pergi dengannya, aku mencoba cari alasan untuk
marah agar aku tak terlihat begitu rapuh ketika kamu tinggal pergi. Saat kamu
kembali, aku harus tampak bahagia karna kamu baru saja berbahagia dan aku tak
mau merusaknya.
Jujur saja, satu hal yang tidak
mau kulihat darimu adalah air mata kamu. Entah mengapa, melihatnya jatuh
kemarin, seolah-olah mengoyakkan rongga dada ini. Kamu menangis karnanya
untuknya didepanku saat bersamaku. Aku berusaha tegar untuk buat kamu tegar.
Tapi apa kamu tau? Seberapa lebar koyakan itu?
Tak perlu di ukur, koyakan
itu sudah cukup sembuh dan siap untuk kembali terkoyak.
Tiap kali kalian pergi. Aku
tersenyum, tertawa, bahagia karna pasti kamu bahagia. Kebahagiaan yang pastinya
tak kamu dapati jika bersamaku. Bangkaiku harus kamu sembunyikan agar dia tak
mencium kehadiranku. Aku harus ditinggalkan saat kalian bersama. Jujur aku
membenci itu. Tapi aku bahagia kalau kamu bahagia meskipun bersamanya,
sederhana saja.
Aku selalu menahanmu agar tak
meninggalkanku. Aku membuat kesepakatan bodoh dimana aku memintamu untuk tak
meninggalkanku, dan kamu menjanjikan hal itu, kamu berjanji tidak akan
meninggalkanku apapun yang terjadi. Kamu terpaksa harus terjebak didalam janji
itu, aku tau itu.
Aku pernah mengikhlaskan kamu
pergi meninggalkanku dan memintamu untuk melupakan janji itu. Tapi apa? Kamu
mengucapkan janjimu itu, memegang teguh tak akan mengingkarinya.
Aku salah telah membuat kamu
harus menjanjikan hal yang tidak kamu sukai. Padahal, seharusnya kamu
meninggalkanku, dan sepenuhnya bersama dia.
Kamu tidak akan berhasil
untuk menjaga perasaanku dengan membagi perhatianmu.
Aku juga tak akan berhasil
bertahan jika tiap kita bersama selalu ada dia
Disinilah aku menyerah
Aku mencari kesalahanmu,
sekecil apapun itu harus kupermasalahkan agar aku marah padamu
Aku memperbesar masalah kecil
menjadi sebesar-besarnya sampai kita bertengkar
Aku menjadi bukan diriku,
menjadi pura-pura tak perduli agar kamu juga begitu dan perlahan menjauh
Aku membuat batas antara kita
dengan memberimu tantangan bodoh untuk tidak menemuiku
Semua itu kulakukan agar kita
jauh, agar kamu mengingkari janji itu, agar kamu benci denganku, agar kamu
bosan menghadapiku yg selalu marah selalu bertingkah keanakan, agar tiada lagi
kata 'kita' untuk kedepannya
Meskipun air mataku selalu
jatuh saat marah denganmu
Meskipun dadaku sesak saat
aku pura-pura tak perduli denganmu
Meskipun semua yang kulakukan
itu membuatku tersiksa, aku tidak apa asalkan aku mampu hidup tanpamu, kamu
bisa sepenuhnya bersama dia dan kamu dengannya kembali bahagia.
Doaku agar kalian bahagia dan
tak ada lagi aku yang selalu menjadi
angin lalu diantara kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar