Rabu, 17 Desember 2014

Akhir



Sudah waktunya
Aku harus sadar jika aku tak pernah bahagia bersamamu
Yang ku dapat bersamamu hanyalah kesakitan
Kesakitan yang selama ini tertutupi oleh kebahagian semu
Kesakitan yang selama ini kucoba untuk tak merasakan kehadirannya
Kesakitan yang selama ini aku tahan dengan berkata aku gapapa, aku bisa, aku baik-baik saja
Kesakitan yang selama ini aku sembunyikan darimu, dari dunia

Dulu aku terlalu takut untuk sadar bahwa kita tak sepantasnya ada
Kalian yang dulu adalah sangat bahagia
Kalian adalah sesuatu yang paling indah
Kalian adalah hal yang seharusnya tak kusetuh, tak kucoba untuk kurusak
Kalian terlalu suci untuk ku campuri
Aku mencoba bertahan diantara kalian, mencoba untuk tetap tersenyum dibalik topeng saat kalian bersama. Tapi apa? Hasilnya nihil. Tiap kamu pergi dengannya, aku mencoba cari alasan untuk marah agar aku tak terlihat begitu rapuh ketika kamu tinggal pergi. Saat kamu kembali, aku harus tampak bahagia karna kamu baru saja berbahagia dan aku tak mau merusaknya.

Jujur saja, satu hal yang tidak mau kulihat darimu adalah air mata kamu. Entah mengapa, melihatnya jatuh kemarin, seolah-olah mengoyakkan rongga dada ini. Kamu menangis karnanya untuknya didepanku saat bersamaku. Aku berusaha tegar untuk buat kamu tegar. Tapi apa kamu tau? Seberapa lebar koyakan itu?
Tak perlu di ukur, koyakan itu sudah cukup sembuh dan siap untuk kembali terkoyak.

Tiap kali kalian pergi. Aku tersenyum, tertawa, bahagia karna pasti kamu bahagia. Kebahagiaan yang pastinya tak kamu dapati jika bersamaku. Bangkaiku harus kamu sembunyikan agar dia tak mencium kehadiranku. Aku harus ditinggalkan saat kalian bersama. Jujur aku membenci itu. Tapi aku bahagia kalau kamu bahagia meskipun bersamanya, sederhana saja.

Aku selalu menahanmu agar tak meninggalkanku. Aku membuat kesepakatan bodoh dimana aku memintamu untuk tak meninggalkanku, dan kamu menjanjikan hal itu, kamu berjanji tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. Kamu terpaksa harus terjebak didalam janji itu, aku tau itu.
Aku pernah mengikhlaskan kamu pergi meninggalkanku dan memintamu untuk melupakan janji itu. Tapi apa? Kamu mengucapkan janjimu itu, memegang teguh tak akan mengingkarinya.
Aku salah telah membuat kamu harus menjanjikan hal yang tidak kamu sukai. Padahal, seharusnya kamu meninggalkanku, dan sepenuhnya bersama dia.
Kamu tidak akan berhasil untuk menjaga perasaanku dengan membagi perhatianmu.
Aku juga tak akan berhasil bertahan jika tiap kita bersama selalu ada dia

Disinilah aku menyerah
Aku mencari kesalahanmu, sekecil apapun itu harus kupermasalahkan agar aku marah padamu
Aku memperbesar masalah kecil menjadi sebesar-besarnya sampai kita bertengkar
Aku menjadi bukan diriku, menjadi pura-pura tak perduli agar kamu juga begitu dan perlahan menjauh
Aku membuat batas antara kita dengan memberimu tantangan bodoh untuk tidak menemuiku
Semua itu kulakukan agar kita jauh, agar kamu mengingkari janji itu, agar kamu benci denganku, agar kamu bosan menghadapiku yg selalu marah selalu bertingkah keanakan, agar tiada lagi kata 'kita' untuk kedepannya
Meskipun air mataku selalu jatuh saat marah denganmu
Meskipun dadaku sesak saat aku pura-pura tak perduli denganmu
Meskipun semua yang kulakukan itu membuatku tersiksa, aku tidak apa asalkan aku mampu hidup tanpamu, kamu bisa sepenuhnya bersama dia dan kamu dengannya kembali bahagia.
Doaku agar kalian bahagia dan tak ada lagi  aku yang selalu menjadi angin lalu diantara kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar