Senin, 17 Februari 2014

basketball player


Saat semua orang telah beralih pulang untuk beristirahat, tidak dengan lima orang gadis remaja yang lebih memilih menghabiskan sore mereka di sekolah. Lima orang remaja itu adalah Khayi, Diandra, Erinita, Nagita dan juga Retno. Mereka bertemu di kelas yang sama saat penerimaan siswa baru di sekolah mereka. Dan sejak itulah mereka dekat dan semakin dekat sampai saat sekarang ini.
            “ bentar ya, aku ke toilet dulu” sela Diandra saat keempat sahabatnya sedang asik mengobrol.
            Mereka bukanlah kelompok remaja yang senang untuk menindas adik kelas mereka. Mereka hanya sekelompok remaja yang sedang mengabiskan waktu remaja yang dikatakan orang indah dengan baik dan sebaik-baiknya.
            “ eh, ada yang mau aku bilang deh sama kalian” seru Diandra di depan pintu kelas setelah kembali dari toilet.
            “ penting aja, atau penting banget?” Retno si dingin mengeluarkan suaranya yang mahal itu.
            “ Ret, aku lagi serius loh ini.” Datar Diandra dengan wajah yang berubah serius.
            “ iyaya dee, bilang aja.” Bijak si Khay
            “ jadi gini, aku sering deh jumpa sama abang kelas di atasan kita. Tadi juga aku barusan jumpa sama dia. Aku nggak tau siapa namanya. Yang jelas, kalo jumpa sama aku, tatapannya ituloh. Nggk wajar banget. Kayak aku itu makhluk asing yang baru turun ke bumi. Dan yang lebih parahnya lagi, semua teman-temannya juga ngeliat aku kayak gitu.” Jelas Diandra.
            “ mungkin dia suka sama kamu dee.” Ucap Erin tanpa menoleh dari novel yang entah keberapa kali  dibacanya.
            “ ah, enggak mungkin ah.” Jawab Diandra sambil merendahkan. “ cewek kaya gue, disukain abang kelas keren kayak dia?”
            “ dee, kamu itu cantik. Tapi sayangnya aja kamu itu pendek” celetos Erin yang sekali lagi tanpa menoleh. Dan ucapannya itu membuat Diandra kesal dan melayangkan kepalan tangannya ke kepala Erin.
            “ lagian dee, kalo emang abang itu suka sama kamu, salah? Ingat loh, tinggal kamu sendiri yang jomblo. Enggak iri apa ngeliat kita semua pulang bareng sama pacar masing-masing?” Khay mengeluarkan suara dan di tambah dengan jentikan jari dari Gita. Ucapan Khay seakan membenarkan semuanya. Hanya Diandra yang belum membuka hatinya untuk lawan jenisnya.
            “ nggak mau urus deh. Lagian bentar lagi kita mau ujian semester. Aku gamau ah ngerusak nilai demi cowok. Nggk guna.” Perkataan Diandra membuat sahabatnya mengerti bahwa dia memang tidak suka dengan nasibnya sejak dua tahun lalu yang sampai pada akhir ini belum berubah juga.
            Awal bulan Desember ini sekolah Diandra memang mengadakan ujian semester ganjil. Untuk pertama kalinya Diandra mengikuti ujian besar di sekolah yang  lima bulan lau dimasukinya. Dan untuk pertama kalinya pikiran Diandra harus berkontroversi mengenai pelajaran dan juga abang itu. Lelaki yang juga pernah menjadi abang kelasnya di SMP. Diandra bersyukur karna dia tak terlalu serng bertemu atau berselisihan dengan abang itu. Dikarnakan gedung kelasnya dan gedung kelas abang itu terpisah jauh.
            Saat ujian berlangsung, Diandra mencoba fokus pada targetnya. Dan selama satu minggu lebih ujian, Diandra dapat bebas kembali. Bebas dari tumpukanbuku yang memenuhi kamarnya setiap hari. Tetapi Diandra harus kembali terganggu oleh pertanyaan sahabatnya mengenai abang itu. ‘siapa namanya?’ , ‘kelas berapa sih abang itu?’, atau ‘abang itu udah punya pacar belum ya?’. Dan semua itu menganggu liburan Diandra.
             Seperti biasa, di sekolah Diandra tiap semesternya mengadakan PORAKEL atau pekan olahraga antar kelas. Porakel berlangsung seperti jam sekolah biasa. Tetapi kelima remaja itu tampak tak perduli dengan kegiatan itu. Mereka telah sepakat tak akan mau  ikut campur kegiatan apapun di sekolah. Kelima gadis itu hanya menonton kegiatan  itu dan akan menghabiskan waktu sore di sekolah seperti biasanya.
            Hari kedua porakel telah selesai. Mereka berkumpul dan duduk di bangku yang ada di depan lab kimia yang tak jauh dari lapangan basket. Mata Diandra tertuju pada lapangan itu. Lapangan yang berisi satu orang lelaki bertubuh besar dan juga atletis. Diandra mengajak Retno pergi melihat lelaki itu bermain. Lebih baik pergi dari teman-temannya yang tak kunjung usai dengan pembicaraan yang tak Diandra mengerti. Diandra dan Retno duduk tak jauh dari teman-temannya dan juga tak jauh dari lapangan basket itu. Tiba-tiba saja, bola yang sedang dimaninkan oleh lelaki itu berguling keluar lapangan dan menuju Diandra dan Retno.
            “ dek, tolong ambilkan bolanya.” Seakan terhipnotis, mulut Diandra membungkam dan matanya menatap orang itu lurus. Dia tak mungkin salah. Lelaki itu adalah orang yang mengusiknya belakangan ini. Orang itu adalah orang yang di sebutnya ‘abang itu’. Diandra kembali tersadar saat Retno menyikut lengannya.
            “oh ya, ntar ya Ret, aku ambil bolanya dulu.” Kemudian Diandra beranjak bangun dari duduknya dan mengambil bola itu. Diandra melemparkan pelan bola itu ke arah abang itu.
            “ makasih ya” kata abang itu dan kemudian berjalan kembali ke tempat teman-temannya.
            “CIIIIEEEEEE!!!!!!!” sorak teman-teman abang itu ketika dia sudah kembali duduk dan meneguk sebotol air. Sungguh keren.
            “hey Ret, yang tadi kenapa?”
            “gatau.” Inilah yang membuat Diandra menyesal telah mengajak Retno menemaninya. Retno terlalu dingin dan tak memperdulikan apapun. Bahkan Diandrapun di acuhkannya.  Kemudian mereka kembai ke kerumunan gadis yang sejak tadi belum usai bercerita juga. Ketika kami kembali duduk, mereka semua melihat Diandra dengan tatapan tajam.
            “eh! Kenapa kalian menatapku seperti itu?!” bentak Diandra yang  mendapat pandangan tak enak dari sahabatnya.
            “katakan apa yang kau rasakan” jawab Khay dengan wajah menggoda.
            “aku... aku merasa malu tadi” sontak Diandra menutup wajah dengan kedua tangannya.
            “yaa!! Lihat itu!! Dee menyukai abang itu !!” teriak Erin dengan hebohnya.
            “perasaan ku aja, atau memang abang itu sejak tadi melihatmu Dee” perkataan Gita membuat kami semua menoleh ke  abang itu.
            DEG!
            “ya Tuhan.. apa ini.” Diandra merasakan detak jantungnya lebih cepat saat menatap mata elang itu.
-----SKIP
            Kejadian siang itu sangat membekas untuk Diandra. Sampai-sampai dia menggali-gali informasi tentang abang itu. Dia harus tau siapa abang itu. Tak lama mencari di twitter, Diandra menemukan titik terang. Setelah melihat avatarnya, dia yakin seratus persen , itulah abang itu! ‘Vegar Putra Agung Wibowo’. Diandra bernafas lega, dia memutuskan untuk mengirimkan tweet untuk Vegar.
            “@andraDee: @vegarpaw followback ya kak J
            Seperti itulah pesan yang dikirimkan Diandra untuk Vegar. Merasa ada pemberitahuan di handphonenya, Diandra meraih benda hitam itu dan melihatnya. Disana tertera nama Vegar telah meng-followback Diandra. Diandra berloncat kaget. Tak lama, handphonenya berbunyi lagi. Bukan hanya satu, tetapi ada tiga.
            “@vegaraw : @andraDee udah ya dek J
            “@dityasip : duh mesranya.. RT @vegaraw : @andraDee udah ya dek”
            “@aszabil: cie vegar bisa move on juga RT @dityasip : duh mesranya.. RT @vegaraw : @andraDee udah ya dek”
            Hampir saja Diandra kehabisan nafas. Bukan hanya Vegar yang mengenalnya. Tetapi juga teman-temannya yang kemarin juga ikut menatapnya. Diandra menggeleng frustasi. Mengapa teman-teman Vegar menjadi ikut campur begini. Apa itu tidak terlalu berlebihan? Diandra tak membalas mention dari mereka semua. Dan Diandra berani taruhan kalau besok dia akan mendadak terkenal.
--SKIP
            Pagi yang cerah untuk Diandra, tetapi hatinya tak secerah pagi ini. Hatinya kacau, kalut, takut. Sesuatu yang di hindarinyapun terjadi. Diandra bertemu dengan Vegar bersama teman-temannya di kantin. Dan yang paling ditakutinya hari inipun terjadi. Selama di kantin, wajahnya merah memadam karna terus di goda oleh teman-teman Vegar. Para sahabatnya bukan membantu untuk menenagkan, malah terlalu semangat untuk mendekatkan Diandra dengan Vegar. Entahlah, hari Diandra berantakan dan kacau.
            Seperti biasa, sekolah telah usai, mereka berkumpul di tempat yang sama. Di depan lab kimia. Tiba-tiba saja Diandra memiliki ide saat melihat Vegar yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
KAMI DIDEKAT KOLAM YAA... Sorak Diandra dan juga Erin meninggalkan Retno,Khay,Gita. Mereka memilih pindah karna alasan yang belakangan menghantui Diandra, Vegar.
Hey Rin, aku dapat memandangnya sangat jelas dari sini
Karna itulah kita kesini dee..
Kami berbincang mengenai hal yang sama sekali tak penting. Lewat satu ide di otak Diandra.
Rin, gimana kalau kita melewati mereka semua?
Kamu yakin?
Yap! Ayo! mereka beranjak pergi untuk kembali ke tempat semula mereka bersama tiga gadis tadi. Dan mereka sengaja melewati kerumunan lelaki berbadan besar yang sedang berisirahat di pinggir lapangan basket itu. Sesaat Diandra dan Erin ingin melewati mereka, orang yang Diandra intai ikut beranjak pergi menjauh.
Eh gar! Jangan salah tingkah gitu dong! Teriak lelaki bertubuh pendek dan juga gendut.
Apa? Dia salah tingkah? Pada siapa?
Eh dek, dek!” lelaki bertubuh pendek tadi berbicara pada Diandra dan Erin yang sudah melewati mereka. Merekapun menoleh.
Abang itu sukak sama adek dengan jari telunjuknya yang mengarah ke.. Diandra?
Eh! Dia jugak kak! Dia juga sukak sama abang itu!” Sontak mata Diandra membelak hampir keluar karna mendengar ucapan Erin yang sangat antusias. Diandra tak dapat lagi menahan malu disana. Diandra memilih berlari dari mereka semua kemudian berhenti setelah yakin bahwa dia telah hilang dari pangadangan Vegar, dan mengatur nafasnya.
Apa benar aku menyukainnya?” batin Diandra.
--SKIP
            Ya, semenjak kejadian yang luar biasa itu terjadi, kehidupan Diandra berubah drastis. Account twitternya penuh dengan mention teman-teman Vegar yang menggoda Diandra dan Vegar, jika berselisih dengan Vegar, semua pengikutnya menyoraki mereka. Dan Diandra dapat melihat bagaimana perubahan wajah Vegar saat teman-temannya mengganggunya. Vegar tampak tidak senang. Bahkan tampak disitu ada sebuah kemarahan. Apa benar Vegar marah karna terus-terus diganggu oleh teman-temannya? Atau Vegar marah dan menyesal telah berurusan denganDiandra? Entahlah, Diandra tak dapat mendeskripsikannya. Diandra tahu betul bagaimana perasaan Vegar. Vegar pasti merasa malu, Diandra tahu itu.
            Seminggu lebih hidup Diandra terganggu, ia merasa telah jauh dengan Vegar. Tidak ada tanda-tanda Vegar akan mendekatinya. Yang ada hanyalah kata-kata godaan teman-teman Vegar. Diandra pasrah atas nasibnya. Disaat ia sudah membuka hati, dan sudah ada yang ingin masuk, tiba-tiba saja orang itu membatalkan niatnya. Bahkan, Vegar sudah meng-unfollow Diandra di twitter. Semua sikap Vegar seolah-olah ingin jauh dari gadis berwajah oriental dan bertubuh kecil itu. Seharusnya Diandra tahu semua ini akan terjadi. Seharusnya Diandra tahu bahwa dia tak pantas untuk Vegar. Dan sejumlah penyesalan berbaris rapi di belakang Diandra untuk di sesalkan.
            Sekarang takkan ada lagi Diandra yang menunggu seorang Vegar untuk mengirim pesan di twitternya. Takkan ada lagi Diandra yang memperhatikan Vegar bermain basket. Dan takkan ada lagi orang yang dapat membuka hatinya untuk orang yang salah. Diandra harus belajar dari kesalahan. Memilih Vegar untuk menjadi lelaki yang disukainya adalah kesalahannya yang paling fatal.
Untuk apa aku bertahan padamu, jika kau tak memintanya. Bagaimana bisa aku pergi jika hati tak bisa memenuhinya – Diandra
Seharusnya kau tak perlu melakukannya. Bukan salahku jika kau tersakiti. Dan juga bukan salahku jika aku egois - Vegar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar