Saat semua
orang telah beralih pulang untuk beristirahat, tidak dengan lima orang gadis
remaja yang lebih memilih menghabiskan sore mereka di sekolah. Lima orang
remaja itu adalah Khayi, Diandra, Erinita, Nagita dan juga Retno. Mereka
bertemu di kelas yang sama saat penerimaan siswa baru di sekolah mereka. Dan
sejak itulah mereka dekat dan semakin dekat sampai saat sekarang ini.
“ bentar ya, aku ke toilet dulu” sela
Diandra saat keempat sahabatnya sedang asik mengobrol.
Mereka bukanlah kelompok remaja yang
senang untuk menindas adik kelas mereka. Mereka hanya sekelompok remaja yang
sedang mengabiskan waktu remaja yang dikatakan orang indah dengan baik dan
sebaik-baiknya.
“ eh, ada yang mau aku bilang deh
sama kalian” seru Diandra di depan pintu kelas setelah kembali dari toilet.
“ penting aja, atau penting banget?”
Retno si dingin mengeluarkan suaranya yang mahal itu.
“ Ret, aku lagi serius loh ini.”
Datar Diandra dengan wajah yang berubah serius.
“ iyaya dee, bilang aja.” Bijak si
Khay
“ jadi gini, aku sering deh jumpa
sama abang kelas di atasan kita. Tadi juga aku barusan jumpa sama dia. Aku nggak
tau siapa namanya. Yang jelas, kalo jumpa sama aku, tatapannya ituloh. Nggk
wajar banget. Kayak aku itu makhluk asing yang baru turun ke bumi. Dan yang
lebih parahnya lagi, semua teman-temannya juga ngeliat aku kayak gitu.” Jelas
Diandra.
“ mungkin dia suka sama kamu dee.”
Ucap Erin tanpa menoleh dari novel yang entah keberapa kali dibacanya.
“ ah, enggak mungkin ah.” Jawab
Diandra sambil merendahkan. “ cewek kaya gue, disukain abang kelas keren kayak
dia?”
“ dee, kamu itu cantik. Tapi
sayangnya aja kamu itu pendek” celetos Erin yang sekali lagi tanpa menoleh. Dan
ucapannya itu membuat Diandra kesal dan melayangkan kepalan tangannya ke kepala
Erin.
“ lagian dee, kalo emang abang itu
suka sama kamu, salah? Ingat loh, tinggal kamu sendiri yang jomblo. Enggak iri
apa ngeliat kita semua pulang bareng sama pacar masing-masing?” Khay
mengeluarkan suara dan di tambah dengan jentikan jari dari Gita. Ucapan Khay
seakan membenarkan semuanya. Hanya Diandra yang belum membuka hatinya untuk
lawan jenisnya.
“ nggak mau urus deh. Lagian bentar
lagi kita mau ujian semester. Aku gamau ah ngerusak nilai demi cowok. Nggk
guna.” Perkataan Diandra membuat sahabatnya mengerti bahwa dia memang tidak
suka dengan nasibnya sejak dua tahun lalu yang sampai pada akhir ini belum
berubah juga.
Awal bulan Desember ini sekolah
Diandra memang mengadakan ujian semester ganjil. Untuk pertama kalinya Diandra
mengikuti ujian besar di sekolah yang
lima bulan lau dimasukinya. Dan untuk pertama kalinya pikiran Diandra
harus berkontroversi mengenai pelajaran dan juga abang itu. Lelaki yang juga pernah menjadi abang kelasnya di SMP. Diandra
bersyukur karna dia tak terlalu serng bertemu atau berselisihan dengan abang itu. Dikarnakan gedung kelasnya
dan gedung kelas abang itu terpisah
jauh.
Saat ujian berlangsung, Diandra
mencoba fokus pada targetnya. Dan selama satu minggu lebih ujian, Diandra dapat
bebas kembali. Bebas dari tumpukanbuku yang memenuhi kamarnya setiap hari. Tetapi
Diandra harus kembali terganggu oleh pertanyaan sahabatnya mengenai abang itu. ‘siapa namanya?’ , ‘kelas
berapa sih abang itu?’, atau ‘abang itu udah punya pacar belum ya?’.
Dan semua itu menganggu liburan Diandra.
Seperti biasa, di sekolah Diandra tiap
semesternya mengadakan PORAKEL atau pekan olahraga antar kelas. Porakel berlangsung
seperti jam sekolah biasa. Tetapi kelima remaja itu tampak tak perduli dengan
kegiatan itu. Mereka telah sepakat tak akan mau
ikut campur kegiatan apapun di sekolah. Kelima gadis itu hanya menonton
kegiatan itu dan akan menghabiskan waktu
sore di sekolah seperti biasanya.
Hari kedua porakel telah selesai.
Mereka berkumpul dan duduk di bangku yang ada di depan lab kimia yang tak jauh
dari lapangan basket. Mata Diandra tertuju pada lapangan itu. Lapangan yang
berisi satu orang lelaki bertubuh besar dan juga atletis. Diandra mengajak Retno
pergi melihat lelaki itu bermain. Lebih baik pergi dari teman-temannya yang tak
kunjung usai dengan pembicaraan yang tak Diandra mengerti. Diandra dan Retno
duduk tak jauh dari teman-temannya dan juga tak jauh dari lapangan basket itu.
Tiba-tiba saja, bola yang sedang dimaninkan oleh lelaki itu berguling keluar
lapangan dan menuju Diandra dan Retno.
“ dek, tolong ambilkan bolanya.”
Seakan terhipnotis, mulut Diandra membungkam dan matanya menatap orang itu
lurus. Dia tak mungkin salah. Lelaki itu adalah orang yang mengusiknya belakangan
ini. Orang itu adalah orang yang di sebutnya ‘abang itu’. Diandra kembali tersadar saat Retno menyikut lengannya.
“oh ya, ntar ya Ret, aku ambil
bolanya dulu.” Kemudian Diandra beranjak bangun dari duduknya dan mengambil
bola itu. Diandra melemparkan pelan bola itu ke arah abang itu.
“ makasih ya” kata abang itu dan kemudian berjalan kembali
ke tempat teman-temannya.
“CIIIIEEEEEE!!!!!!!” sorak
teman-teman abang itu ketika dia
sudah kembali duduk dan meneguk sebotol air. Sungguh keren.
“hey Ret, yang tadi kenapa?”
“gatau.” Inilah yang membuat Diandra
menyesal telah mengajak Retno menemaninya. Retno terlalu dingin dan tak
memperdulikan apapun. Bahkan Diandrapun di acuhkannya. Kemudian mereka kembai ke kerumunan gadis
yang sejak tadi belum usai bercerita juga. Ketika kami kembali duduk, mereka
semua melihat Diandra dengan tatapan tajam.
“eh! Kenapa kalian menatapku seperti
itu?!” bentak Diandra yang mendapat
pandangan tak enak dari sahabatnya.
“katakan apa yang kau rasakan” jawab
Khay dengan wajah menggoda.
“aku... aku merasa malu tadi” sontak
Diandra menutup wajah dengan kedua tangannya.
“yaa!! Lihat itu!! Dee menyukai abang itu !!” teriak Erin dengan
hebohnya.
“perasaan ku aja, atau memang abang itu sejak tadi melihatmu Dee”
perkataan Gita membuat kami semua menoleh ke
abang itu.
DEG!
“ya Tuhan.. apa ini.” Diandra
merasakan detak jantungnya lebih cepat saat menatap mata elang itu.
-----SKIP
Kejadian siang itu sangat membekas
untuk Diandra. Sampai-sampai dia menggali-gali informasi tentang abang itu. Dia harus tau siapa abang itu. Tak lama mencari di twitter, Diandra menemukan titik terang.
Setelah melihat avatarnya, dia yakin
seratus persen , itulah abang itu! ‘Vegar Putra Agung Wibowo’. Diandra
bernafas lega, dia memutuskan untuk mengirimkan tweet untuk Vegar.
“@andraDee: @vegarpaw followback ya
kak J
“
Seperti itulah pesan yang dikirimkan
Diandra untuk Vegar. Merasa ada pemberitahuan di handphonenya, Diandra meraih benda hitam itu dan melihatnya. Disana
tertera nama Vegar telah meng-followback Diandra.
Diandra berloncat kaget. Tak lama, handphonenya
berbunyi lagi. Bukan hanya satu, tetapi ada tiga.
“@vegaraw : @andraDee udah ya dek J”
“@dityasip : duh mesranya.. RT
@vegaraw : @andraDee udah ya dek”
“@aszabil: cie vegar bisa move on
juga RT @dityasip : duh mesranya.. RT @vegaraw : @andraDee udah ya dek”
Hampir saja Diandra kehabisan nafas.
Bukan hanya Vegar yang mengenalnya. Tetapi juga teman-temannya yang kemarin
juga ikut menatapnya. Diandra menggeleng frustasi. Mengapa teman-teman Vegar
menjadi ikut campur begini. Apa itu tidak terlalu berlebihan? Diandra tak
membalas mention dari mereka semua. Dan Diandra berani taruhan kalau besok dia
akan mendadak terkenal.
--SKIP
Pagi yang cerah untuk Diandra,
tetapi hatinya tak secerah pagi ini. Hatinya kacau, kalut, takut. Sesuatu yang
di hindarinyapun terjadi. Diandra bertemu dengan Vegar bersama teman-temannya
di kantin. Dan yang paling ditakutinya hari inipun terjadi. Selama di kantin,
wajahnya merah memadam karna terus di goda oleh teman-teman Vegar. Para
sahabatnya bukan membantu untuk menenagkan, malah terlalu semangat untuk
mendekatkan Diandra dengan Vegar. Entahlah, hari Diandra berantakan dan kacau.
Seperti biasa, sekolah telah usai,
mereka berkumpul di tempat yang sama. Di depan lab kimia. Tiba-tiba saja Diandra
memiliki ide saat melihat Vegar yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
“KAMI DIDEKAT KOLAM YAA...” Sorak Diandra dan juga Erin meninggalkan Retno,Khay,Gita.
Mereka memilih pindah
karna alasan yang belakangan menghantui Diandra, Vegar.
“Hey Rin, aku dapat memandangnya sangat
jelas dari sini”
“Karna itulah kita kesini dee..”
Kami berbincang mengenai hal yang sama sekali tak penting.
Lewat satu ide di otak Diandra.
“Rin, gimana kalau kita melewati mereka
semua?”
“Kamu yakin?”
“Yap! Ayo!” mereka beranjak pergi untuk kembali ke
tempat semula mereka bersama tiga gadis tadi. Dan mereka sengaja melewati kerumunan lelaki
berbadan besar yang sedang berisirahat di pinggir lapangan basket
itu. Sesaat Diandra dan Erin ingin
melewati mereka, orang yang Diandra intai ikut beranjak pergi menjauh.
“Eh gar! Jangan salah tingkah gitu
dong!” Teriak lelaki bertubuh pendek dan juga gendut.
Apa? Dia salah tingkah? Pada siapa?
“Eh dek, dek!”
lelaki bertubuh pendek tadi berbicara pada Diandra dan Erin yang sudah
melewati mereka. Merekapun
menoleh.
“Abang itu sukak sama adek” dengan jari telunjuknya
yang mengarah ke.. Diandra?
“Eh! Dia jugak kak! Dia juga sukak sama
abang itu!” Sontak mata Diandra membelak
hampir keluar karna mendengar ucapan Erin yang sangat antusias. Diandra tak dapat
lagi menahan malu disana. Diandra memilih berlari dari mereka semua
kemudian berhenti setelah yakin bahwa dia telah hilang dari pangadangan Vegar,
dan mengatur nafasnya.
“Apa benar aku menyukainnya?” batin Diandra.
--SKIP
Ya, semenjak kejadian yang luar
biasa itu terjadi, kehidupan Diandra berubah drastis. Account twitternya penuh dengan mention
teman-teman Vegar yang menggoda Diandra dan Vegar, jika berselisih dengan Vegar,
semua pengikutnya menyoraki mereka. Dan Diandra dapat melihat bagaimana
perubahan wajah Vegar saat teman-temannya mengganggunya. Vegar tampak tidak
senang. Bahkan tampak disitu ada sebuah kemarahan. Apa benar Vegar marah karna
terus-terus diganggu oleh teman-temannya? Atau Vegar marah dan menyesal telah
berurusan denganDiandra? Entahlah, Diandra tak dapat mendeskripsikannya. Diandra
tahu betul bagaimana perasaan Vegar. Vegar pasti merasa malu, Diandra tahu itu.
Seminggu lebih hidup Diandra
terganggu, ia merasa telah jauh dengan Vegar. Tidak ada tanda-tanda Vegar akan
mendekatinya. Yang ada hanyalah kata-kata godaan teman-teman Vegar. Diandra
pasrah atas nasibnya. Disaat ia sudah membuka hati, dan sudah ada yang ingin
masuk, tiba-tiba saja orang itu membatalkan niatnya. Bahkan, Vegar sudah meng-unfollow Diandra di twitter. Semua sikap Vegar seolah-olah ingin jauh dari gadis
berwajah oriental dan bertubuh kecil itu. Seharusnya Diandra tahu semua ini
akan terjadi. Seharusnya Diandra tahu bahwa dia tak pantas untuk Vegar. Dan
sejumlah penyesalan berbaris rapi di belakang Diandra untuk di sesalkan.
Sekarang takkan ada lagi Diandra
yang menunggu seorang Vegar untuk mengirim pesan di twitternya. Takkan ada lagi Diandra yang memperhatikan Vegar
bermain basket. Dan takkan ada lagi orang yang dapat membuka hatinya untuk
orang yang salah. Diandra harus belajar dari kesalahan. Memilih Vegar untuk
menjadi lelaki yang disukainya adalah kesalahannya yang paling fatal.
Untuk apa aku bertahan padamu, jika kau tak memintanya. Bagaimana
bisa aku pergi jika hati tak bisa memenuhinya – Diandra
Seharusnya kau tak perlu melakukannya. Bukan salahku jika kau
tersakiti. Dan juga bukan salahku jika aku egois
- Vegar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar