Sekali lagi, aku merindukanmu
Aku merindukan masa laluku yang sepantasnya sudah ku lupakan
Aku merindukan masa-masa indah yang berubah menjadi kenangan yang seharusnya sudah ku singkirkan
Dan sekali lagi, aku gagal
Gagal dari segala usahaku untuk menimbun seonggok kenangan indah bersamamu
Gagal untuk kembali di waktu saat kita belum mempunyai perasaan satu sama lain
Lagi-lagi, aku berhasil menggali kembali kenangan kita
Aku kembali merasakan degup sesak dadaku, namun tak menangisimu lagi
Aku kembali tersenyum, tersipu malu saat membaca percakapan kita di ponsel
Semua sangat indah, dulu
Tapi entah mengapa tiba-tiba saja kita harus berpisah dengan alasan yang tak masuk akal
Nah! lihatkan? Aku mulai menyesali apa yang telah terjadi, lagi dan lagi
Aku belum bisa, aku belum cukup kuat untuk benar-benar rela menimbun dan meninggalkan bekas kebersamaan kita
Semua terjadi disaat aku belum bersiap
Aku selalu mencoba untuk berlari, jauh darimu, jauh dari segala hal yang berbau kita
Namun apa dayaku? Kakiku selalu lemah, berdiri saja tak mampu, apalagi untuk berlari?
Disaat seperti inilah aku membenci diriku sendiri
Isi pikiranku penuh dengan "mengapa? kenapa? bagaimana bisa?" yang menari-nari diatas logikaku
Disaat seperti inilah aku kehilangan akal sehat dan kesadaranku
Semua seperti film dokumenter kuno yang di putar berulang-ulang dalam otakku
Hitam putih kenangan kita tergambar jelas di pandanganku tanpa terlewat satu titikpun
Dahulu nyata, sekarang hanya terlihat sangat nyata
Aku tak ingin menyalahkan takdir
Aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan
Aku hanya perlu untuk mengikuti arus yang ada, dan perlahan mencoba mengubur kepingan masalalu kita
Aku hanya harus menunggu kapan hati ini siap untuk merelakanmu yang takkan mungkin kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar