Senin, 04 Agustus 2014

masih menunggu kepulanganmu



Ini sudah berlalu lebih dari satu bulan kepergianmu
Semua berwarna putih polos tanpa warna
Kuraih kotak yang penuh dengan gumpalan kertas yang berisikan goresan penaku tentang kepergianmu
Tentang bagaimana hidupku tanpamu, bagaimana kenangan kita, bagaimana pahitnya aku menangisimu
Pintu kenangan terbuka dan ingatan kebersamaan terekam jelas di pikiranku
Dan aku tenggelam di dalamnya, mengenangmu
Kucoba untuk menyembunyikan airmata ini
Yang lagi lagi jatuh untuk mengenangmu

Mengapa kau meninggalkanku, sayang?
Mengapa kau harus pergi tanpa ingat untuk kembali?
Aku kesulitan bernafas, oksigenku seolah-olah kau bawa pergi seluruhnya
Aku menyayangimu seperti kau menyayangiku
Semua orang berkata, kau tak akan kembali
Itu tak boleh terjadi padaku
Aku ingat dimana saat kau berkata "selama kita bisa bertahan, mengapa aku harus meninggalkanmu?"
Aku mempercayaimu

Melepaskanmu pergi membuatku merasa kedinginan
Aku mencoba untuk percaya bahwa itu takkan menyakitiku
Takkan menyakitiku lebih dari kau pergi meninggalkanku tanpa kembali

Saat ingatan ini sampai pada akhirnya, saat kau memilih untuk meninggalkanku, hujan turun
Hujan yang tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah bongkahan es yang menembus hati
Aku tersadar dari imajinasiku dan kembali  kepada kenyataan bahwa aku tanpamu
Terasa sangat perih
Dan kemudian ingatan itu hilang, aku kembali terjatuh di lantai ini, sama seperti dahulu yang aku lakukan
Kupeluk erat gumpalan kertas-kertas tadi, dan menangisimu

Mengapa aku belum bisa melepasmu?
Mengapa hanya aku yang tersakiti?
Mengapa kau sangat mudah menyingkirkanku?
Terlalu banyak mengapa jika aku mengenangmu
Aku takkan memaksa hati ini untuk melepasmu
Aku masih menunggumu pulang, dho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar